SANTA ELIANI.INFO.Pernahkah kita mendengar kalimat, “Mengeluh selama 30 detik dapat merusak otak”? Kalimat ini sering beredar di media sosial dan menjadi pengingat agar kita tidak terlalu lama terjebak dalam keluhan.
Namun, secara ilmiah, kita tidak bisa mengatakan bahwa mengeluh selama tepat 30 detik akan langsung merusak otak. Tidak ada batas waktu 30 detik yang terbukti secara medis menyebabkan kerusakan otak.
Meski demikian, kebiasaan mengeluh secara terus-menerus memang dapat berkaitan dengan dampak terhadap stres, suasana hati, pola pikir, dan cara otak merespons pengalaman negatif.
Mengapa terlalu banyak mengeluh perlu diwaspadai?
Ketika seseorang terus-menerus memikirkan masalah, mengulang kejadian buruk, atau membicarakan hal-hal negatif tanpa mencari jalan keluar, pikiran dapat semakin terfokus pada masalah tersebut.
Keadaan ini dapat membentuk pola ruminasi, yaitu kecenderungan memikirkan sesuatu yang negatif secara berulang-ulang. Jika berlangsung terus-menerus, ruminasi dapat meningkatkan beban stres dan membuat seseorang lebih sulit melihat solusi.
Otak kita juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap pola yang sering dilakukan. Karena itu, kebiasaan berpikir negatif yang berulang sebaiknya tidak dibiarkan menjadi pola sehari-hari.
Mengeluh berbeda dengan mencari pertolongan
Mengeluh sesekali adalah hal yang manusiawi. Ketika sedang lelah, kecewa, atau menghadapi masalah, menceritakan perasaan kepada orang yang dipercaya justru dapat membantu.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika keluhan menjadi berulang tanpa penyelesaian, membuat kita semakin tertekan, atau membuat seluruh perhatian hanya tertuju pada hal-hal negatif.
Jadi, bukan berarti kita harus memendam semua masalah.
Bercerita boleh. Menangis boleh. Mengungkapkan kekecewaan juga boleh. Yang penting, setelah mengungkapkan perasaan, kita berusaha kembali mencari jalan keluar dan tidak terus-menerus tinggal dalam pikiran negatif.
Ubah keluhan menjadi tindakan
Daripada berkata:
“Mengapa masalah ini selalu terjadi kepada saya?”
Cobalah mengubahnya menjadi:
“Apa yang masih bisa saya lakukan untuk menghadapi keadaan ini?”
Daripada:
“Semuanya terasa sulit.”
Cobalah:
“Apa satu langkah kecil yang bisa saya lakukan hari ini?”
Perubahan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat membantu kita mengarahkan perhatian dari masalah menuju solusi.
Jaga otak dengan menjaga pikiran
Menjaga kesehatan otak bukan hanya tentang makanan, olahraga, dan tidur yang cukup. Kita juga perlu memperhatikan bagaimana kita mengelola stres dan pikiran sehari-hari.
Ketika muncul masalah, berikan diri kita kesempatan untuk mengeluh atau mencurahkan perasaan. Setelah itu, tarik napas, tenangkan diri, dan tanyakan:
“Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Karena hidup tidak selalu dapat kita kendalikan, tetapi kita dapat belajar mengendalikan respons kita terhadap keadaan.
Kesimpulan
Mengeluh selama 30 detik tidak terbukti secara ilmiah langsung merusak otak. Namun, kebiasaan mengeluh dan mengulang pikiran negatif secara terus-menerus dapat berkaitan dengan stres dan pola pikir yang kurang sehat.
Jadi, bukan waktunya yang harus kita takuti, melainkan kebiasaan terjebak dalam keluhan tanpa bergerak menuju solusi.
Keluhkan secukupnya, lepaskan yang tidak bisa dikendalikan, dan arahkan pikiran pada hal yang masih bisa diperbaiki.
“Jangan biarkan masalah memenuhi pikiran sepanjang hari. Beri ruang bagi diri untuk berhenti, bernapas, bersyukur, dan mencari solusi.”(santa eliani)

Terimakasih infonya… dapat pengetahuan baru dan belajar selalu bersyukur dalam segala hal… tetap semangat 🥰
thankyou