SANTAELIANI.INFO.Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius 4:2
Melayani Tuhan bukan undangan untuk dipahami, melainkan panggilan untuk taat meski disalahpahami. Banyak orang mau melayani selama Tuhan memberi hasil yang terlihat.
Tetapi Alkitab berbicara tentang pelayanan yang tetap harus dilakukan, bahkan ketika Tuhan memilih diam tidak membela, tidak menjelaskan, tidak meluruskan tuduhan.
Pelayanan sejati dimulai ketika tepuk tangan berhenti.
Di dunia pelayanan, Tuhan jarang membangun hamba-Nya melalui keberhasilan. Ia lebih sering membentuk mereka melalui ketidakadilan.
Sebab keberhasilan bisa menggemukkan ego, tetapi ketidakadilan menyingkapkan motivasi hati yang paling terdalam dalam melayani.
Di sanalah pertanyaan terdalam muncul:
Apakah aku melayani Tuhan, atau melayani perasaan ingin dianggap benar?
Banyak orang berhenti melayani bukan karena dipanggil Tuhan untuk berhenti, tetapi karena hati mereka menuntut upah sebelum waktunya. Mereka lelah bukan oleh tugas, tetapi oleh harapan yang salah mengira pelayanan adalah tempat untuk dihargai, padahal sering kali justru tempat untuk melupakan balasan dari setiap pelayanan.
Paulus tahu ini. Karena itu ia tidak memberi Timotius strategi bertahan, tetapi kerangka penghakiman. Ia mengingatkan Timotius bahwa suatu hari pelayanan tidak akan dinilai oleh jemaat, kantor konfrens, atau sejarah melainkan oleh KRISTUS yang mengadili yang hidup dan yang mati.
Artinya,setiap teguran yang kau sampaikan, setiap kesabaran yang kau telan, setiap kebenaran yang kau sampaikan dengan risiko ditolak semuanya dicatat.
“Beritakanlah firman, baik atau tidak baik waktunya.”
Ini bukan ajakan untuk ceroboh, melainkan perintah untuk setia meski mungkin ada yang menolak.
Firman tidak tunduk pada suasana. Kebenaran tidak menunggu momen yang nyaman. Pelayan Tuhan bukan penjaga kenyamanan jemaat, tetapi penjaga kemurnian kebenaran.
Menegur tidak selalu membuatmu dicintai. Mengajar tidak selalu membuatmu diterima. Tetapi kesetiaan tidak pernah gagal di hadapan Allah, meski sering gagal di mata manusia.
Timotius diminta menegur dengan sabar bukan karena jemaat layak disabarin, tetapi karena Tuhan bersabar terhadap dirinya. Kesabaran dalam pelayanan bukan kelembutan alami, melainkan ingatan akan anugerah yang pernah menyelamatkan kita.
Dan Paulus berkata: tetaplah tenang dalam penderitaan.
Bukan karena penderitaan ringan, tetapi karena pelayanan bukan tentang lolos dari salib, melainkan setia di bawahnya.
Pelayan Tuhan yang matang tidak bertanya,
“Apakah aku masih disukai?”
melainkan,
“Apakah aku masih setia ketika kebenaran membuatku sendirian?”
Pada akhirnya, Tuhan tidak akan menanyakan seberapa banyak yang menyukai pelayanan kita, tetapi apakah kita tetap setia ketika kebenaran membuat kita sendirian.
Semoga perenungan yang sederhana menolong saya dan kita semuanya untuk menyadari bahwa kesetiaan dalam pelayanan jauh lebih penting daripada disukai banyak orang.(santa eliani
