SANTAELIANI.INFO.Sebuah temuan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan bahwa sekitar 70% dari 281 pasien kanker nasofaring memiliki kebiasaan mengonsumsi ikan asin. Data ini kemudian banyak dibahas karena diduga berkaitan dengan faktor risiko pola makan masyarakat Indonesia terhadap penyakit tersebut.
Kanker nasofaring sendiri adalah kanker yang menyerang bagian belakang rongga hidung dan bagian atas tenggorokan. Penyakit ini cukup banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meskipun secara global tergolong tidak terlalu umum.
Para peneliti menjelaskan bahwa ikan asin merupakan makanan yang diawetkan dengan kadar garam tinggi. Proses pengawetan ini dapat memicu terbentuknya senyawa nitrosamin, yang dikenal berpotensi bersifat karsinogenik atau dapat memicu pertumbuhan sel kanker dalam jangka panjang.
Selain itu, konsumsi ikan asin yang dilakukan secara rutin sejak usia dini diduga dapat meningkatkan risiko kerusakan sel di area nasofaring, terutama jika disertai faktor lain seperti infeksi virus Epstein-Barr (EBV), yang juga diketahui berhubungan dengan kanker jenis ini.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa ikan asin bukan satu-satunya penyebab kanker nasofaring. Penyakit ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetika, infeksi virus, lingkungan, serta kebiasaan merokok dan pola hidup tidak sehat.
Dengan demikian, temuan tersebut lebih menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung. Masyarakat tetap dianjurkan untuk menjaga pola makan seimbang dan mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan secara berlebihan demi menurunkan risiko penyakit kronis.(santa eliani)
